Sabtu, 02 Aug 2008, | 119
(Perbatasan, garis-garis batas dan Kepemilikan di Laut Timor)Perairan yang Membingungkan (3) Oleh:
A. G. Hadzarmawit Netti *)Simpang siurnya dongengan tentang penemuan Pulau Pasir yang dikemukakan oleh para ilmuwan identik dengan simpang siurnya kisah pelayaran raja Thie (Foe Mbura), raja Loleh (Ndii Hua) dan raja Ba’a (Toudenga Lilo) ke Batavia. Pada bab tentang “Stone Fences And Sad Stories—Ashmore Reef”, halaman 109-110, Ruth Balint memaparkan dongengan yang dituturkan oleh Sadli, yang diawali kalimat sebagai berikut: “It was in fact people from Rote who discovered Pulau Pasir about 300 years ago, Sadli began.” “Sebetulnya, orang Rote-lah yang menemukan Pulau Pasir kira-kira 300 tahun yang lalu, Sadli memulai ceritanya.” Menurut Sadli, sebagaimana dipaparkan oleh Ruth Balint, kedua orang kakeknya yang merupakan nelayan tradisional Rote generasi kesembilan, telah menceritakan kepadanya sejarah penemuan tempat yang mereka sebut Pulau Pasir, atau dalam bahasa Rote disebut Nusa Solokaek.
Dikisahkan bahwa pada suatu ketika, dalam bulan Februari, pedagang-pedagang Rote yang berlayar kembali dari Kupang setelah selesai melakukan barter gula, terkena terpaan badai yang sangat kuat sekali. Mereka terombang-ambing dan hanyut selama enam siang enam malam, hingga pada suatu pagi mereka melihat banyak burung dari Pulau Pasir. Burung-burung itu sangat banyak sekali, sehingga mereka berpikir bahwa burung-burung itu pasti mempunyai tempat tinggal. Mereka mengikuti burung-burung itu, dan tidak lama kemudian permukaan air laut memancarkan cahaya berwarna hijau cerah. Perahu yang mereka tumpangi tersandung di sebuah pulau. Tetapi mereka terheran-heran, bagaimana mungkin di sini ada sebuah pulau pasir tanpa sebuah gunung pun?
Para awak perahu menyebut pulau pertama yang mereka datangi dari barat itu Pulau Satu, atau Pulau Pertama, yang kedua Pulau Dua, atau Pulau Kedua dan yang terakhir Pulau Tiga, atau Pulau Ketiga. Setelah mereka menggali di ketiga pulau itu untuk mencari air, mereka menemukan bahwa air di Pulau Tengah dapat diminum karena paling kurang rasa asinnya. Mulai saat itu hingga kini dan seterusnya, Pulau Pasir (Ashmore Reef) menjadi lubuk air bagi orang-orang yang mencari teripang dalam pelayaran mereka ke perairan perisir barat Australia, atau bagi mereka yang menjelajahi dasar laut yang lebih dekat dengan kampung halamannya.
Mereka menanam kelapa di Pulau Dua dan Pulau Tiga untuk menandai di mana dapat ditemukan air yang dapat diminum. Kini, tinggal dua atau tiga pohon kelapa yang tetap tumbuh dekat sumur di Pulau Dua. Mereka yang terdampar di Pulau Pasir itu menunggu dari hari ke hari bertiupnya angin yang baik untuk berlayar pulang. Akhirnya, mereka memutuskan untuk coba-coba berlayar kembali ke kampung halaman. Ahmad Hadem, kakek Sadli dari pihak ibu, bertindak sebagai jurumudi, dan mengemudikan perahu ke arah kumpulan tiga bintang. Pada hari berikutnya, burung-burung berada lagi di hadapan mereka.
Mereka menyadari bahwa agar dapat sampai ke kampung halaman, mereka harus berlayar membelakangi ketiga bintang itu. Bintang-bintang beredar dengan cepatnya, karena itu satu orang harus terus mengamati bintang-bintang itu sepanjang malam, guna memastikan bahwa posisi bintang-bintang itu selalu berada di belakang mereka. Akhirnya, setelah satu bulan berlalu, para nelayan itu tiba kembali di Rote. Untuk membuktikan keberadaan pulau di laut terbuka itu, para nelayan membawa telur-telur burung yang telah mereka kumpulkan. Demikianlah dongengan yang terdapat dalam buku Troubled waters (hlm.109-110).
Pada bagian akhir, Notes butir 2, halaman 166, Ruth Balint mengatakan bahwa kisah yang ia paparkan pada halaman 109-110 itu merupakan penggabungan dua cerita dari Sadli. Satu cerita dituturkan oleh Sadli kepada Ruth Balint di Papela pada bulan Mei 2001, dan satu cerita lainnya dituturkan oleh Sadli kepada Geoff Havel yang mengunjungi Papela pada tahun 1998.
Yang dimaksudkan dengan dua cerita itu ialah pertama, cerita tentang terdamparnya perahu yang memuat beberapa pedagang Rote, yang terkena terpaan angin ribut ketika berlayar dari Kupang kembali ke Rote pada bulan Februari, entah pada tahun berapa, kira-kira pada 300 ratus tahun yang lalu! Dan cerita kedua, ialah cerita tentang penemuan Pulau Pasir (Pulau Satu, Pulau Dua dan Pulau Tiga) oleh beberapa nelayan Rote, salah satu nelayan bernama Ahmad Hadem.
Kedua cerita tentang penemuan Pulau Pasir sebagaimana dikutip di atas ini sesungguhnya merupakan cerita yang dibuat-buat. Beberapa pedagang Rote yang dikisahkan terdampar di Pulau Pasir itu, tidak diceritakan sama sekali bahwa akhirnya mereka kembali ke Rote. Kisah terdamparnya beberapa pedagang Rote itu hanya diakhiri dengan kalimat: “Perahu yang mereka tumpangi tersandung di sebuah pulau. Tetapi mereka terheran-heran, bagaimana mungkin di sini ada sebuah pulau pasir tanpa sebuah gunung pun?” Yang diceritakan berlayar kembali ke Rote adalah para nelayan perahu lain, yang salah satunya bernama Ahmad Hadem.
Anehnya, para nelayan tersebut sebulan lebih berada di Pulau Pasir, sempat mondar-mandir dari Pulau Satu ke Pulau Dua dan Pulau Tiga, menggali sumur untuk mencari air di ketiga pulau tersebut, serta menanam kelapa. Yang perlu dipertanyakan ialah: selama sebulan lebih mereka berada di Pulau Pasir, apa yang mereka makan? Apakah perahu mereka tidak mengalami kerusakan ketika diamuk badai? Perlu diketahui bahwa Pulau Pasir yang terdiri atas tiga pulau yaitu Pulau Barat (Pulau Satu), Pulau Tengah (Pulau Dua) dan Pulau Timur (Pulau Tiga) memiliki luas kira-kira 21x11 km = 231 km2.
Luas Pulau Barat lebih-kurang 30,94 Ha; luas Pulau Tengah lebih kurang 14,72 Ha; dan luas Pulau Timur lebih kurang 14,88 Ha (Senat Debate, 18-10-1977: pp.1475-1476). Selain itu, jarak antara pulau yang satu dengan pulau yang lainnya lebih-kurang 10 km atau kira-kira 6.21 mil laut (Holding an island outpost. The Age, 9-4-1988).
Berdasarkan peta situasi gugusan Pulau Pasir sebagaimana digambarkan di atas ini, maka terasa sungguh aneh, dalam keadaan yang begitu darurat di suatu lokasi pantai di salah satu pulau, katakanlah di salah satu pantai di Pulau Barat, para nelayan yang terdampar itu masih sempat berlama-lama mempergunakan waktu untuk menjelajahi ketiga pulau di gugusan Pulau Pasir itu.. Mereka bertindak seperti suatu tim survei yang diperlengkapi dengan peralatan dan bahan makanan yang cukup untuk mengunjungi setiap pulau guna mencari tahu lokasi mana yang memiliki sumber air yang dapat digali untuk memperoleh air minum.
Mereka sebagai nelayan, tidak berusaha mencari teripang, lola, batu laga, memancing hiu untuk mengambil siripnya, tetapi mereka hanya mengumpulkan telur burung untuk dibawa pulang ke Rote, untuk dijadikan sebagai bukti bahwa mereka menemukan Pulau Pasir. Ini benar-benar sangat lucu. Yang lebih lucu lagi ialah para nelayan yang dikisahkan terdampar di Pulau Pasir lebih-kurang pada 300 tahun yang lalu itu, salah satu di antaranya bernama Ahmad Hadem, yang adalah nelayan pendatang, yang menetap di Papela pada tahun 1920-an dan meninggal dunia di Papela pada tahun 1988.
Saya kenal baik dengan Ahmad Hadem ketika saya bermukim di Papela antara tahun 1963—1988, dan ia termasuk salah satu narasumber, yang dari padanya saya mendapatkan banyak data tentang Pulau Pasir.
Dongengan lain lagi yang dimunculkan oleh Sadli pada bulan Oktober tahun 2002 adalah sebagai berikut: “Penemu Pulau Pasir secara tidak terduga oleh enam nelayan dari sebuah perahu yang dijuragani Ama Rohi pada abad ke-18, jauh sebelum Indonesia merdeka, bahkan sebelum Australia ditemukan oleh Capten de Cook” (POS KUPANG, Selasa 29 Oktober 2002).
Apakah Ama Rohi yang disebut oleh Sadli itu adalah Lede Rohi, seorang suku Sabu, yang disebut oleh Ferdi Tanoni dalam buku Skandal Laut Timor (hlm.12-13), direkrut oleh Kapten Robin dari Gugusan Pulau Pasir menjadi penyelam andal di Broome, Australia pada tahun 1917”? Jikalau benar demikian, apakah tahun 1917 itu bukan abad ke-20 tetapi abad ke-18 seperti kata Sadli? Ini lagi merupakan satu cerita dongeng yang membuat dongengan tentang penemuan Pulau Pasir semakin simpang siur dan rancu.
Rupanya Ilmuwan sekaliber James J. Fox pun tergolong penggemar berat akan dongengan dan menjadikan dongengan sebagai res gestae di dalam ikut mengukuhkan kepemilikan orang Rote atas Pulau Pasir.
Ini terbukti dari argumentasi Ruth Balint yang mengutip hasil penelitian Fox sebagai berikut: “Kisah lain orang Rote tentang penemuan, menceritakan bagaimana empat orang sesepuh, atau raja-raja yang mereka kenal dalam cerita orang Rote yang diturunkan turun-temurun, membuat sebuah perahu besar dan berangkat untuk mencari pengetahuan baru. Tujuan mereka adalah Batavia, tempat tinggal Kompeni Hindia Timur Belanda, yang kehadiran penjajahannya di Indonesia diketahui di Rote, namun asal-usulnya merupakan suatu misteri.
Mereka bermaksud berlayar menuju ke arah utara, tetapi angin memukul mereka ke selatan, terus ke Ashmore Reef (Karang Ashmore). Salah satu dari raja-raja itu, Foe Mpura, mengambil sebuah tongkat, mengukir namanya pada tongkat itu dan menancapkannya kedalam pasir” (Troubled waters, hlm. 110-111; vide, catatan kaki butir 3 yang merujuk tulisan Fox).
Menurut Mia Noach, “Fox menulis bahwa orang Rote sudah berada di pulau itu sejak tahun 1728” dan selanjutnya Mia Noach berkata, “Pernyataan ini sesuai dengan ceritera rakyat Rote bahwa sekitar tahun 1729 terdapat raja/manek Rote, FoE Mbura dengan temannya 2 manek yang lain mampir di Pulau Pasir dalam perjalanan ke Batavia”, sambil menunjuk kepada tulisan Yusuf . Henuk (baca, Suplemen Perairan Sengketa, hlm.3).
Simpang siurnya dongengan tentang penemuan Pulau Pasir yang dikemukakan oleh para ilmuwan sebagaimana dikutip di atas ini identik dengan simpang siurnya kisah pelayaran raja Thie (Foe Mbura), raja Loleh (Ndii Hua) dan raja Ba’a (Toudenga Lilo) ke Batavia. Menurut S.J. Merukh yang menjadi murid Stovil di Baa pada 1 Agustus 1895, tiga tahun kemudian tamat dan menjadi Inl.
Reeraar keempat di Pulau Rote pada 1 April 1898 dan pensiun pada bulan November 1932, dalam tulisannya berjudul “Akan hal penchabaran Injil di Pulau Rote” (Ombok, 15 Juni 1934), mengatakan bahwa “pada tahun 1775 raja Thie yang bernama Foe Mboera bersama-sama dengan orang kenamaan dalam negerinya berlayar ke Jawa (Betawi) dengan sebuah perahu bernama Sangga Ndoloe artinya Cahari ilmu dan Keadilan.
Perahu itu dikerjakan oleh kenalan raja Foe Mboera dan beberapa tukang orang Thie, dengan menurut contoh perahu orang Mandar, yang pada tiap-tiap tahun datang berdagang di Thie”. Dalam kisah ini tidak disebutkan bahwa raja Foe Mboera bersama sama dengan Ndii Hua (raja Loleh) dan Toudenga Lilo (raja Ba’a) yang pergi ke Betawi, melainkan hanya disebutkan Tulle Fatoe, Ressi Boroe dan Nafi Lon yang menjadi jurumudi. Rupanya S.J. Merukh salah menulis tahun pelayaran Foe Mboera ke Betawi.
Barangkali yang mau ditulis oleh Merukh ialah tahun 1735, bukan tahun 1775. Sebab dalam dokumen VOC 8342 tahun 1749, halaman 116, disebutkan bahwa pada 11 Oktober 1746 raja Thie, Benjamin Messa (Foe Mboera), raja Loly, Zacharias Die Hua, Opperhoofd Jan Anthony Meulenbeek dan isterinya, dan sejumlah pegawai Kompeni dan burgers dibunuh oleh orang-orang Termanu.. Sedangkan dalam tulisan S.J. Merukh, raja Thie, Benyamin Messa (Foe Mboera) dibunuh di Termanu pada tahun 1796, yang rupanya salah tulis angka tahun juga, yaitu angka 4 ditulis 9.
Menurut versi Pdt.J.J.P. Therik, “Pada tahun 1730 raja Thie Foe Mbura bersama 27 orang pengikutnya berangkat ke Betawi. Untuk itu dibuatkan sebuah perahu yang meniru bentuk perahu orang Mandar yang setiap tahun berdagang di Thie… Perahu itu diberi nama Sangga-Ndolu, yang artinya ‘mencari ilmu dan keadilan,. Perahu itu diberi nama oleh Resi Boroe (dari suku Bibimane)…” (BERITA GMIT, No.4, 1987, hlm.18). Paul Haning, dalam tulisannya, “Sekilas sejarah perkembangan pendidikan di Rote-Ndao”, mengatakan bahwa “Pada tahun 1730 berangkatlah Foeh Mbura bersama rombongannya antara lain Ndi’i Hu’a (raja Loleh), Tou Dengga Lilo (raja Ba’a) dan Ndara Naong (raja Lelain) menuju Batavia…” (POS KUPANG, Minggu 3 Agustus 2003, halaman Budaya).
Sedangkan A.M. FanggidaE, dalam tulisannya berjudul “Kembalikan Nusak kami di Rote-Ndao” (Bagian 3), mengatakan bahwa “Sejarah mencatat suatu misi muhibah beberapa manek Rote di bawah pimpinan manek Tie yang bernama Fo’e Mbura ke Matabi atau Batavia pada tahun 1792..” (NTT EAKSPRES, Kamis 9 November 2000). Tahun yang disebutkan oleh A.M. FanggidaE ini sangat tidak masuk akal, karena pada tahun 1746, Foe Mbura yang sudah dibaptis dengan nama Benjamin Messa mati dibunuh di Termanu.
Akan tetapi dongengan yang lebih ‘gila’ lagi tentang pelayaran empat raja Rote yaitu Foe Mbura (raja Thie), Ndii Hua (raja Lole), Toudenga Lilo (raja Ba’a) dan Ndara Naong (raja Lelain) ke Batavia, dikatakan terjadi pada tahun 1617. Dikisahkan bahwa Foe Mbura dan Ndii Hua berlayar dengan perahu Sangga Ndolu dan tiba lebih dahulu di Batavia, sedangkan Toudenga Lilo dan Ndara Naong berlayar dengan perahu lain bernama Tunga Lela, tetapi tidak kunjung tiba di Batavia, sehingga Foe Mbura dan Ndii Hua yang sudah dibaptis menjadi Kristen merasa sangat sedih…” (“Sastra Lisan Rote”. Disusun oleh: S.J. Mboeik, Tarno, Peter Manggut, A. Zacharias dan Lanoe Huandao. Kupang: Proyek Penelitian Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah Nusa Tenggara Timur—Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan 1985).
Semua kisah yang disebutkan di atas ini tidak ada satu pun yang benar, karena bukan res gestae (kebenaran yang relevan dengan peristiwa yang dibicarakan dan dapat dibuktikan), melainkan fairy tale (cerita dongeng) yang pada tempo dulu diungkapkan para manahelo melalui syair yang dinyanyikan, untuk menyanjung-nyanjung pemimpin atau rajanya di setiap acara pesta rakyat.
Dongengan yang pada mulanya dituturkan oleh manahelo tanpa menyebut tahun terjadinya suatu peristiwa itu, kemudian hari disisipkan tahun terjadinya peristiwa oleh epigon-epigon yang terdidik yang terbiasa dengan sikap “take for granded”, agar apa yang semula hanyalah suatu fairy tale dapat dianggap sebagai res gestae.
Sebab berdasarkan dokumen VOC, Foe Mbura tidak dibaptis di Batavia, melainkan dibaptis bersama-sama dengan ayahnya Poura Messa serta seluruh keluarga di nusak (kerajaan) Thie pada tahun 1729, atas permintaan Poura Messa sendiri kepada penguasa VOC Belanda. Data yang saya ungkapkan ini telah dikemukakan pula oleh James J. Fox dalam bukunya, Haverst Of The Palm—Ecological Change in Eastern Indonesia. 1977, halaman 106.
Berdasarkan tinjauan di atas ini, dapat saya katakan bahwa sungguh sangat mengada-ada apabila kisah pelayaran Foe Mbura ke Batavia dengan perahu Sangga Ndolu itu, kemudian dikembangkan menjadi kisah terdamparnya Foe Mbura bersama tiga orang sesepuh (raja) Rote lainnya di Ashmore Reef sebagaimana dikisahkan oleh James J. Fox; atau dikembangkan menjadi kisah “Foe Mbura dengan temannya dua manek yang lain mampir di Pulau Pasir dalam perjalanan ke Batavia” menurut versi Yusuf .L.Henuk, sebagaimana dikutip oleh Mia Noach, hanya dengan tujuan untuk maksud mendukung klaim nelayan Rote sebagai pemilik Pulau Pasir.
*) Penulis tinggal di Kupang
Sumber: Timor Express